RSS

Berkaca pada Alam…

08 Jan

Perhatikanlah bebatuan itu, bertengger di pinggiran sungai, yang terkadang harus basah kuyup oleh sentuhan genit gemericik air mengalir yang membasahinya. Namun untuk beberapa waktu bebatuan itu harus mengering oleh sinar mentari yang mengintip dari balik celah dedaunan, waktu terus berjalan. Silih berganti air dan sinar mentari menyapanya, tapi bebatuan itu tak pernah bergeser, tetap kokoh di tempatnya hingga ada kehendak manusia atau pun alam yang memindahkannya. kemudian jika terlihat salah satu sisi dari bebatuan itu yang terus menerus lembab, dan kemudian ditumbuhi oleh lelumutan yang memancarkan hijau warna keindahannya, itu pertanda bahwa sang mentari tak pernah menyapanya. air sungai, bebatuan, lumut dan sinar mentari mengajarkan kita banyak hal. Kesanggupan sang batu menerima sentuhan air sungai dan sinar mentari merupakan cerminan dari sebuah keikhlasan. kesetiaan batu pada tempatnya yang enggan berpindah merupakan sebuah harga atas kesabaran. Lumut hijau yang ada di sisi batu yang tak tersentuh oleh sinar mentari adalah penunjuk arah jalan…Subhanallah…

Lalu, mendakilah lebih tinggi…akan kita temukan jenis tumbuhan, buah, dan warna yang berbeda. jalan setapak yang kita lalui pun perlahan menyempit, hanya akar besar dengan ketuaannya yang terkadang menjadi perantara bagi kita untuk mencapai undakan berikutnya. Sesaat berhentilah sejenak dan beristirahatlah, perhatikan sekelilingmu…Lihatlah betapa Maha Adilnya Allah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, menempatkan segala sesuatu pada keadaan dan tempat dimana ia bisa beradaptasi. Laa Yukallifullahu nafsan illa wus’aha…Teruslah bergerak mencari makna kehidupan dengan lilin-lilin harapan yang kau nyalakan, karena Allah akan menuntun kita pada jalan dan tempat kehidupan yang terbaik. Namun jika pada akhirnya kita berhenti di suatu tempat yang Allah kehendaki setelah semua usaha dilakukan, maka qonaah dan sabar menjadi pelepas lelahnya serta bersyukur atas segala ketetapanNya…

Saatnya hari menyambut senja, Sinarnya yang merah kekuningan memancarkan keanggunan yang teramat sangat, menyejukkan bagi yang memandangnya, mengintip dibalik celah ranting dan dedaunan. Sesekali ia seperti berkedip dan menatap setiap makhluk yang bergerak. Seakan mengikuti, matanya terus menatap walau sinarnya perlahan meredup hingga akhirnya hilang ditelan malam. Kehadirannya hanya sesaat, namun senja telah begitu memukau dan terasa sangat bermanfaat. Tidak hanya indah, ia telah memancarkan keanggunannya terhadap semua makhluk. Ada baiknya kita seelok senja, memberikan kesejukan dan manfaat bagi banyak makhluk, karena mungkin besok tak ada lagi waktu untuk menorehkan semua itu.

Dan bila sang malam pun tiba, kabut pekat pun menutup pandangan kita, diselimuti kebekuan sunyi yang ditemani angin malam menyapa kulit tipis kita yang tak ingin berhenti bergerak. Sejenak berhenti, hanya menambah tebal selimut kebekuan itu, walaupun mungkin hanya untuk berhenti sejenak menyeruput teh hangat dari tungku batu. Tak banyak yang bisa dilakukan selain terus bergerak untuk menemui sang fajar yang sedang menanti di atas. Ingin mata terpejam, menghela nafas dan mengaturnya agar tak saling susul. Namun keinginan ini begitu kuat untuk tiba dipuncak seakan tak mau berkompromi.

Rembulan pun hanya mengintip di kejauhan, bersembunyi di balik selimut pekat malam. dan kita terus bergerak, mencari jalan dengan hanya menggunakan mata bathin. penerangan hanya alat bantu, karena sesungguhnya kita lebih mempercayai mata bathin yang tak pernah terputus hubungannya dengan mata kaki. Terkadang kita sering mendapatkan satu kondisi dimana tak ada lagi pilihan untuk berbuat banyak, tapi di dalam dada ini masih ada satu yang kita percayai karena ia tak pernah berdusta. Dialah mata hati dan nurani. Berhenti bukanlah jalan yang tepat, apalagi surut ke belakang, padahal tujuan tinggal selangkah lagi. Tanyalah pada hati, niscaya kebenaran yang akan didapat.

Dan pada akhirnya, lelah, peluhpun bercampur menjadi satu seperti embun yang ada di pucuk dedaunan. Tanah yang menjadi pijakan terakhir membuat lega. Hilang sudah semua lelah, pupus sudah semua keputusasaan yang menghantui sepanjang perjalanan. Karena sang mentari menyambut dengan senyuman indahnya di puncak perjalanan. Tersenyum adalah sebuah keniscayaan, kepuasan adalah sebuah kewajaran dikala terasa tak ada lagi jarak antara kita dengan Sang Pencipta di puncak ini. Ingin sekali berteriak, menyampaikan pinta kepada Nya, tapi berbisik pun Dia pasti mendengarnya, karena kita begitu dekat. Perjalanan memang takkan pernah berujung, namun suatu masa kita pasti akan berhenti. Teruslah mendaki agar kita semakin dekat kepada Nya, teruslah bergerak, namun bila telah tiba di puncak keinginanmu janganlah lupa bahwa kita pernah di bawah, dan pasti akan kembali ke bawah…esok atau suatu saat nanti.


 
2 Comments

Posted by on January 8, 2011 in Uncategorized

 

Tags: , , ,

2 responses to “Berkaca pada Alam…

  1. humaira

    January 14, 2011 at 5:41 pm

    lebih baik diasingkan
    daripada menyerah
    terhadap kemunafikan

    GIE

     
  2. Arthuria

    January 23, 2011 at 12:08 pm

    permisi…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: